Wednesday, December 29, 2010

Everybody have to move on. Setelah kalah maupun menang. Kata-kata move on kerap kali saya dengar akhir akhir ini, mungkin karena banyak yang patah hati, patah semangat, goyang patah-patah, sehingga banyak yang meneriakkan "MOVE ON!!" kepada mereka yang patah-patah itu.

Tapi jangan salah, move on juga berlaku untuk mereka yang sudah menang. Setelah Justin Bieber atau Lady Gaga memutuskan untuk memiliki tentakel untuk memegang award-award yang mereka raih (saking banyaknya), apakah mereka berhenti sampai situ? Terus mereka langsung pensiun gitu? Buktinya tidak kan.. mereka balik lagi, tidak terlena dengan euforia award-moment. Baik Bieber maupun Gaga dua-duanya putar otak cari cara bagaimana agar telinga kita setia dengan suara mereka, bagaimana agar follower akun twitter mereka bertambah, bagaimana agar mereka melegenda dan bukan hanya tenar sesaat. Manusia memang tidak pernah puas, kedengarannya negatif tapi jadikanlah energi itu dengan bijak untuk be more and more useful to other.


Memang manis kenangan itu, memang pahit kenangan itu, tapi jangan pernah melihat ke belakang,orang yang hanya mau melihat masa lalu cuma bisa jadi orang jadul. "Itu kan dulu"

Friday, December 3, 2010

Picky Customer (Pelanggan yang Rewel)

Mengisahkan kembali pengalaman rekan yang sekarang bertempat kerja di bagian maintenance (sepertinya) di sebuah apartemen. Apartemen tersebut belum lama ini diresmikan, penghuni yang didominasi expatriat (a.k.a bule) pun berdatangan menempati. Rekan saya ini bertanggung jawab menginstall listrik, penerangan, plumbing, dan berbagai perangkat elektronik termasuk tv kabel.S

Suatu saat ia mengeluhkan, sejatinya ia tidak mengeluh, ia menceritakan ini dengan niat mengomentari selera bule yang picky, dan ceritanya lucu. Jika dikatakan merepotkan itu betul, tapi tetap harus dilayani kan. 

    "Selera bule tuh aneh ya.."

    "Kenapa emang?"

   "Kalo kita kan nonton tv renyek dikit mah oke-oke aja ya, yang penting gambar keliatan bentuknya, suaranya kedengeran, kalo ada teks bisa kebaca jelas. Waktu jaman worldcup, nonton di tv pemainnya 44 orang pun it's okay (22 pemain yang dobel karena gambarnya berbayang - red)"

    "Hahaha, iya betul"

   "Lah ini, waktu itu ada bule yang nelpon maintenance, katanya gambarnya kurang bening trus minta di-bening-in lagi. Pas kita cek kesana, dia lagi nonton film rupanya, yang main tuh siapa ya…Cindy Crawford atau siapalah yang ada tahi lalatnya. Tuh film udah bening (kata kita), tapi dia sambil nunjuk-nunjuk tipi bilang gini: Saya tahu betul dia punya tahi lalat di sini, kok di sini gak ada? Tolong dibeningin lagi sampe tahi lalatnya keliatan. Akhirnya gua bilang sama yang jaga di maintenance, Wan itu tolong frekuensinya dinaikin, kurang bening katanya.Sekarang berapa? Tujuh puluh? Jadi tujuh lima coba… Dan si bule : Nah,,,ini baru bener… tuh kan ada tahi lalatnya. Saya ingat betul dia punya tahi lalat. Kalo gitu makasih…     

    "Waduh, repot juga ya. Btw, tuh booster antenna tipinya keren amet ya? Kalo beli berapaan?"

    "Wohoho.. Mahal lah.."

Yang Harus Dihindari Saat Nonton Film Bareng (versi saya)

Tata atur, undang-undang dan etika menonton film ini saya dapatkan dari pengalaman berpuluh-puluh tahun dan kemudian menyimpulkannya sesuka saya.

Menonton film bersama teman-teman, adik, kakak, orang tua dan makhluk penyuka film lainnya bisa sangat menyenangkan bahkan pada sebagian orang akan menjadi aktivitas rutin akhir pekan, baik itu di bioskop, 'moviebox', maupun di rumah. Film-film kini sudah banyak bertebaran di muka bumi, dari yang lucu-lucu, sedih-sedih, hingga yang xxx. Pintar-pintar memilih ya teman...demi keberlangsungan hidup kita yang aman dan tentram.
Jika kita memutuskan untuk menonton bersama orang lain, maka hal-hal ini lah yang harus dihindari :

1. Menceritakan detail cerita, jalan cerita, twist (contohnya, si A itu ternyata anaknya si B dari hasil kloning dengan alien), bahkan ending cerita. Hal ini mungkin bagi beberapa orang bukan masalah, bahkan dia malah nanya-nanya ke kita "itu kok gitu? akhirnya gimana sih?". Namun pada sebagian besar orang tidak menyukai hal ini dan makanya mereka memilih untuk menonton sendiri. Oke, bolehlah kalian tau detail film tersebut karena telah menonton sebelumnya atau sudah sempat mencari sinopsisnya. Tapi untuk menceritakan semuanya ke temanmu saat nonton bareng? it's a big NO. Mungkin kalian gak ada niat untuk sombong karena udah tahu sebelumnya, tapi inti dari kita menonton film kan untuk merasa tiba-tiba seneng, tiba-tiba takut, tiba-tiba deg-degan, dan tiba-tiba penasaran yang semua itu kalian hancurkan dengan menceritakan detail film. Kalau memang film itu bagus, tahanlah dirimu untuk gak cerita, biarkan orang lain mempersepsikan sendiri apa yang mereka tonton. Kalo di akhir film ada yang nggak ngerti dan temenmu nanya, baru deeh..ceritain semuanya.

2. Komentar berlebihan pada setiap adegan. Semua komentar yang tidak diinginkan adalah menyebalkan, terutama saat serius menonton film. "Ih, ya ampun, mukanya nggak banget deh, liat deh, kamu liat gak sih?" "Itu..gedung itu, kan pernah buat syutingnya band bla bla bla". Mengerti maksud saya? Mendengarkannya saja sudah jengah, apalagi kalau diminta komentar juga? Kalau sudah kelewatan ya jangan sungkan untuk bilang ke dia. 

3. Minta scene diulang. Hal ini terjadi saat kita nonton DVD atau video player lainnya. Ada saatnya kamu harus mondar mandir mungkin karena ada masalah di perut atau hal lain. Okelah kalo sekali dua kali, jangan sering-sering ya..

4. Mengulang dialog di scene. Ada beberapa orang yang sering mengulang dialog karena logatnya unik, kalimatnya inspiring atau romantis, bahkan karena dia sedang melatih pronunciation (kalo film luar). Nah, alasan yang terakhir yang menurut saya paling menyebalkan. Ingin rasanya bilang, "sana berangkat les inggris, mau latihan jangan ganggu orang nonton dong" hahaha, jahat ya.. Ya sekali-kali mah gapapa. Sekali lagi, jangan sering-sering aja.

Hal-hal di atas intinya jangan merusak suasana menonton orang lain dengan aktivitas yang tidak perlu yang mengganggu konsentrasi (serius amet ya). Kalau sekedar tertawa karena lucu, nangis karena sedih, atau teriak karena takut itu sih kalo menurut saya harus. Karena dengan begitu suasana akan lebih ramai dan meningkatkan emosi baik itu sedih, lucu atau takut. Kalau menurut orang lain lucu, ikut ketawa aja, nanti di dalam hati kamu 'oh, lucu ya, HAHAHA, iya lucu juga'. Kamu senang, kita semua senang.

-Selamat Menonton-

Am I A Princess ?

Rapunzel... Film 3D pertama yang saya tonton. Terlepas dari kacamata 3D milik yang bau minyak wajah bekas dipakai ratusan orang yang berbeda, saya sangat menikmatinya. Kebayangnya sih kalo ada adegan berantem, kita bakal ikut babak belur, tapi ternyata nggak, hanya mata kita yang dimanjakan.

Kemunculan film ini di bioskop gak lama setelah film fenomenal Harry Potter 7 yang dinantikan banyak orang. Namun, entah mengapa saya menunjukkan excitement yang lebih pada film kartun genre princess-who-will-finally-meet-some-guy-and-happily-ever-after ini. Kita gak mungkin gak bisa nebak jalan ceritanya, karena ya klasik banget. Tapi bagi saya tidak bisa dipungkiri kebanyakan anak cewek sangat suka jalan cerita yang macam begini.

Film princess pertama produk keluaran Disney yang saya tonton adalah Beauty and The Beast. Saat itu saya berumur 3 tahun-an sehingga saya tidak ingat persis kejadian saat itu. Tapi yang saya ingat adalah saya menontonnya dari kaset VCR, VCR bukan ya namanya? kaset yang ada pitanya itu lho yang sudah lama gak produksi lagi semenjak ada teknologi digital. Di Beauty and The Beast, saya gak habis pikir, kok bisa ya pada akhirnya si cewek jatuh cinta pada The Beast berbentuk karnivora gede banget bertaring panjang tapi tetep pake baju dandy (atau mungkin Beauty sebenernya suka ama bajunya?who knows). Dan akhirnya cinta sang Beauty mampu menangkal kutukan The Beast dan seketika berubah menjadi pangeran tampan impian sejuta gadis.

Saya ingat pernah dibelikan VCD Snow White dan Pinnokio pas SD. Waktu saya googling, ternyata kedua film tersebut dibuat di tahun 60-an. Highlight di Pinnokio, saat itu Walt Disney dikomen sama pekerja-pekerjanya karena kemungkinan pembuatan film kartun Pinnokio yang kita tau musikalitasnya oke punya, grafisnya juga masih nyaman di mata sampe sekarang (dan gak nyangka kalo ternyata dibikin tahun 60-an) akan memerlukan duit yang sangat banyak. Disney gak peduli, "kalo kita punya mimpi kenapa takut kemahalan sih?" (kira-kira begitu, dan kalo gak salah gitu yang saya baca di suatu buku). Mau tau endingnya gimana? tentu saja Pinokio menghasilkan profit yang gak disangka-sangka, Pinnokio telah menggugah banyak orang di dunia. Jujur saya menangis waktu pas Geppetho nyari-nyari Pinnokio yang hilang. Nanti deh kapan-kapan saya nulis khusus tentang Pinnokio. Saya nonton ulang-ulang gak bosen, dan saya sedih karena VCD nya udah rusak. Pinnokio inspired me.

Eiits, Pinnokio kan bukan princess ya, tadinya mau nulis tentang Snow White. Jadi ceritanya di samping saya hobi ngulang-ngulang video Pinnokio saat itu, saya juga hobi nonton Snow White (anak kecil kenapa gak bosen ya nonton film yang sama setiap hari? gak heran kenapa Spongebob dan kartun-kartun Nickelodeon lainnya diulang-ulang terus di GlobalTv). Snow White dan tujuh kurcaci dengan nama-nama yang sesuai dengan karakternya masing-masing. Mereka bekerja di penambangan berlian (saat itu saya percaya bahwa saat menambang berlian ya bentuknya sudah seperti yang dijual di pasar, tapi ternyata di kenyataan tidak. Awalnya batu berlian tak beraturan, lalu di pabrik dibentuk agar pantulan cahayanya jadi lebay dan bikin lebih glowing). Mereka tinggal di satu rumah berpintu mini, kursi mini, kasur mini, semua serba mini (jadi inget para hobbit di The Lord of The Ring). Snow White nyelonong masuk ke rumah mereka dengan niat suci, yaitu kabur dari ibu tiri yang kejam dan numpang tinggal di sana sambil nunggu pangeran berkuda putih dateng menolong. Akhirnya gimana adek-adek???? Iyak betull..... ibu tiri mati, trus Snow White bahagia selamanya.

Apalagi ya? Folkstory lain yang setipe, sebutin deh... 
Cinderella : dalam perkembangannya ada Cinderella 2 dan 3 yang ceritanya dikarang sendiri, dalam artian bukan cerita legenda turun temurun seperti di Cinderella 1.

Little Mermaid : saya gak suka bajunya, terlalu terbuka untuk ditonton anak-anak. Tapi saya hafal betul lagu Under The Sea (the seaweed is always greener, like somebody else's lake, the dreams about going up there, but that is a big mistake, just look out the world around you, right here on the oceans floor, there's wonderful things around you, what more are you looking for) mengingatkan kita saat penat akan keadaan atau lingkungan kita yang sekarang, rasanya ingin memiliki hidup yang benar-benar baru dan meniggalkan yang kita miliki sekarang, kita harus melihat lagi sekeliling, banyak sekali yang kita lupa syukuri.

....to be continued